Tangsel (MKNews)-SMP Negeri 16 Kota Tangerang Selatan melaksanakan rangkaian kegiatan Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS sebagai bagian dari pembelajaran demokrasi, kepemimpinan, dan pembentukan karakter murid. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari orasi pasangan calon, pemilihan umum Ketua dan Wakil Ketua OSIS.
Kegiatan yang digelar di halaman sekolah pada tanggal 4 Nopember 2026 tersebut bukan sekadar menentukan pemimpin organisasi siswa. Pemilihan Ketua OSIS menjadi sarana pembelajaran demokrasi sejak dini, khususnya dalam memahami hak suara, menentukan pilihan, serta menghargai hasil pemilihan.
Berdasar pantauan dilokasi, panitia menyediakan tiga bilik suara untuk mendukung proses pencoblosan. Para siswa dari kelas VII hingga kelas IX tampak berbaris tertib untuk mengambil surat suara, kemudian menentukan pilihan masing-masing di bilik yang telah disediakan.
Tiga kandidat calon Ketua OSIS yang bertarung dalam pemilihan tersebut turut hadir di atas panggung, menunggu hasil dari proses demokrasi yang melibatkan seluruh warga sekolah.
Ketika ditemui di ruang karjanya, Kepala SMPN 16 Tangsel, Lusiana, M.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan Ketua OSIS merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan melalui sejumlah tahapan, mulai dari penjaringan kandidat, pemaparan program kerja, kampanye, hingga pemungutan suara.
“Ini adalah kegiatan tahunan yang kami selenggarakan. Sebelumnya sudah dilakukan tahapan pemilihan calon kandidat, pemaparan program-program, hingga masa kampanye. Seluruh pasangan calon menyampaikan visi dan program mereka, sampai akhirnya hari ini diadakan pemungutan suara oleh seluruh siswa dan para guru,” kata Lusiana.
Menurut Lusiana, mekanisme pemilihan Ketua OSIS sengaja dirancang menyerupai pelaksanaan pemilihan umum di Indonesia. Dengan demikian, para siswa dapat memahami proses demokrasi secara langsung, bukan hanya melalui teori di dalam kelas.
“Kita ingin mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mekanisme pemungutan suara, pemilihan bakal calon, kemudian juga hak-hak mereka untuk memberikan suara kepada kandidat yang mereka jagokan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemilihan Ketua OSIS menjadi pengalaman penting bagi siswa dalam mengenal demokrasi sejak dini. Pembelajaran tersebut diharapkan dapat membentuk kesadaran mereka mengenai pentingnya menggunakan hak suara ketika kelak telah memenuhi syarat sebagai pemilih dalam Pemilu.
Lebih dari sekadar memilih pemimpin, kegiatan ini juga mengajarkan siswa untuk menerima perbedaan pilihan dan menghormati keputusan bersama.
Lusiana menilai ketiga kandidat calon Ketua OSIS memiliki program yang baik, prestasi, serta kemampuan kepemimpinan yang patut diapresiasi. Ia berharap Ketua OSIS terpilih mampu menampung aspirasi seluruh siswa sekaligus menjadi penghubung yang baik antara peserta didik dan para guru.
“Saya berharap siapapun nanti yang terpilih menjadi Ketua OSIS adalah hasil dari pemilihan bersama. Bagi pasangan yang tidak terpilih, bukan berarti mereka tidak bisa berperan aktif di sekolah, karena biasanya tetap akan dilibatkan dalam kepengurusan OSIS,” ungkapnya.
Menurutnya, seluruh kandidat merupakan siswa berprestasi yang memiliki kemampuan kepemimpinan. Karena itu, siapapun yang memperoleh suara terbanyak diharapkan dapat menjalankan amanah dengan baik dan mendapat dukungan dari seluruh warga sekolah.
Siswa Jadi Penyelenggara, Guru Bertindak sebagai Pemantau
Hal menarik dalam pelaksanaan pemilihan Ketua OSIS SMPN 16 Tangsel ini adalah keterlibatan langsung para siswa sebagai penyelenggara kegiatan.
Mulai dari pembentukan panitia, penyediaan perlengkapan pemilihan, hingga pengaturan mekanisme pencoblosan, seluruhnya dilakukan oleh siswa. Sementara itu, para guru berperan sebagai pemantau untuk memastikan proses berjalan dengan baik.
Lusiana mengatakan, pihak sekolah memberikan ruang kepada siswa untuk mengatur dan menjalankan kegiatan secara mandiri, termasuk ketika mereka membutuhkan fasilitas untuk presentasi maupun debat antarkandidat.
“Paling kita memberikan waktu dan tempat saja. Misalnya, mereka menyampaikan rencana presentasi atau debat antarpasangan calon, silakan. Jadi, kita memberikan ruangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, panitia siswa juga bertanggung jawab menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan serta menentukan mekanisme pelaksanaan pemilihan.Seluruh rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung dalam satu hari, mulai dari pemungutan suara, penghitungan suara, hingga pengumuman kandidat yang memperoleh suara terbanyak.
Melalui kegiatan tersebut, SMPN 16 Tangsel berupaya menghadirkan demokrasi dalam praktik nyata di lingkungan sekolah. Para siswa tidak hanya belajar memilih pemimpin, tetapi juga memahami tanggung jawab, partisipasi, dan pentingnya menghargai keputusan bersama. (red)
