Dukungan Tokoh Agama Bekasi Pada Lukman Hakim: Antara Sinyal Alam dan Tanda Politik

oleh -345 Dilihat

Kota Bekasi  (MKNews)- Menjelang Musda PAN Kota Bekasi pada 13 Desember 2025 suara hembusan dukungan bagi Lukman Hakim untuk menjadi Ketua PAN Kota Bekasi semakin deras meski tidak sederas banjir bandang Sumatera dan Aceh.

Dan bukan sebuah kebetulan atau ujug-ujug jika tokoh agama di Bekasi Utara memberi dukungan pada Lukman Hakim alias Alex Ziblo. Apalagi suara itu muncul dari figur sekelas Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Bekasi Utara. KH. Hasan Toha, juga Pimpinan Ponpes Fathul Bahri yang juga Wakil Rois Syuriah NU Kota Bekasi, KH. Jamalullail, LC,. MA serta Ketua MUI Bekasi Utara Prof. DR. KH. Abdul Manaf, Ph.D

Dukungan tersebut semakin menegaskan bahwa di Bekasi Utara, ada dua hal yang biasanya dianggap sakral: pengajian malam Jumat dan obrolan politik menjelang Musda PAN Kota Bekasi. Keduanya sering hadir bersamaan, bahkan kadang-kadang sulit dibedakan, apalagi ketika para tokoh agama tiba-tiba kompak mengucap “Lukman Hakim ini calon yang adem, cocok mimpin PAN.”

Nah, pertanyaannya, apakah ini sinyal alam… atau sinyal politik yang dibungkus baju koko?

Sinyal Alam: “Tiba-tiba Ustaz Mendukung”

Dalam budaya politik lokal, “sinyal alam” biasanya datang dari hal-hal mistis seperti, daun jatuh yang arahnya miring sedikit ke utara, suara ayam berkokok jam 11 siang, atau tiba-tiba grup WA majelis taklim ramai membahas satu nama.

Di kasus Lukman Hakim, sinyal alam ala Bekasi Utara muncul ketika para tokoh agama merasa Alex ‘lebih merangkul, tidak kaku, dan mau turun ke basis jamaah tanpa gaya pejabat’.

Ini dianggap sebagai karomah politik seperti kemampuan hadir tanpa bikin jamaah tegang atau curiga bakal ada proposal Rp 5 juta yang harus ditandatangani.

Sinyal Politik: “Aura Musda PAN Kota Bekasi Tercium Sampai Mimbar Masjid”

Namun, mari jujur di Bekasi, jarak antara mimbar masjid dan panasnya Musda PAN Kota Bekasi itu cuma setipis sajadah tipis yang suka dibagikan caleg.

Para tokoh agama tersebut tentu paham peta politik. Mereka membaca bahwa Lukman Hakim sedang naik daun, basisnya solid, grass root Muhammadiyah–Nahdliyin–habaib masuk semua, dan yang paling penting: dia rajin hadir saat diundang, tidak cuma musim pemilihan.

Jadi dukungan itu bisa jadi bukan “wahyu dari langit”, tapi kalkulasi duniawi yang sangat manusiawi:

“Kalau nanti jadi ketua, kita sudah salam duluan.”

Campuran Keduanya adalah Sinyal Alam Berbungkus Politik Khas Bekasi Utara, segala sesuatu itu sering hybrid seperti, listrik mati–nyala dianggap ujian alam, tapi PLN tetap disalahkan.

Begitu juga politiknya. Dukungan tokoh agama kepada Lukman muncul bukan karena dikenal sebagai teman saat masih kecil tapi karena figur Lukman dianggap tidak bising, tidak membawa gaya ‘one man show’, punya tim yang rapi, dan dihormati pengurus cabang sampai ranting.

Ketika karakter ini dianggap sesuai “akhlak politik yang baik”, para tokoh agama melihatnya sebagai sinyal alam.

Sementara momentum Musda PAN Kota Bekasi membuatnya sekaligus sinyal politik.

Bahasa Halusnya: Legitimasi Moral

Di dunia PAN Kota Bekasi, legitimasi moral itu aset. Ketika tokoh agama Bekasi Utara ikut menyokong, itu ibarat mendapat “stempel halal untuk memimpin DPD”.

Dampaknya pendukung makin percaya diri, dan grup WA internal makin ramai perdebatan tapi tetap pakai emoji salam dua jari.

Ini Bukan Sinyal Alam atau Sinyal Politik Ini Sinyal Bekasi. Sinyal Bekasi itu unik ada nuansa religius, ada strategi politik, ada obrolan warung kopi, dan kadang dibumbui sugesti klenik ringan.

Dukungan tokoh agama kepada Lukman Hakim adalah kombinasi organik dari semuanya sebuah ekosistem politik lokal yang hidup antara pengajian, obrolan bale-bale, dan lobi Musda.

Jadi kalau ada yang bertanya, “Ini sinyal apa?”. Jawabannya simpel. Sinyal bahwa Musda PAN Kota Bekasi 2025 mulai panas, tapi tetap beradab seperti tausiyah ba’da Maghrib. (ali/red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.